1. PENEMUAN PROTON
Pada tahun
1886, sebelum hakikat sinar katoda ditemukan, Goldstein melakukan suatu
percobaan dengan tabung sinar katoda dan menemukan fakta berikut. Yaitu apabila
katode tidak berlubang ternyata gas di belakang katode tatap gelap. Namun, bila
pada katode berlubang ternyata gas di belakan katode menjadi berpijar.
Hal ini menunjukkan adanya radiasi yang berasal dari anode, yang menerobos
lubang pada katode dan memijarkan gas dibelakang katode itu. Radiasi itu
disebut sinar anode atau sinar positif atau sinar terusan.
Hasil
percobaan menunjukkan bahwa sinar terusan merupakan radiasi partikel (dapat
memutar kincir) yang bermuatan positif (dalam medan listrik dibelokkan ke kutub
negatif). Partikel sinar terusan ternyata bergantung pada jenis gas dalam
tabung. Artinya, jika gas dalam tabung diganti, ternyata dihasilkan partikel
sinar terusan dengan ukuran yang berbeda. Partikel sinar terusan terkecil diperoleh
dari gas hidrogen. Partikel ini kemudian disebut proton.
Muatan maupun
massa partikel sinar terusan dari gas lain selalu merupakan kelipatan bulat
dari massa dan muatan proton, sehingga diduga bahwa partikel itu terdiri atas
proton-proton.
Kemudian pada
tahun 1919, Rutherford menemukan proton terbentuk ketika partikel alfa
ditembakkan pada inti atom nitrogen. Hal serupa juga terjadi pada penembakan
inti atom lain. Hal ini membuktikan bahwa inti atom terdiri atas proton
sebagaimana diduga oleh Goldstein.
2. PENEMUAN NEUTRON
Neutron
ditemukan oleh James Chadwick pada tahun 1932, tetapi keberadaannya telah
diduga oleh Aston sejak tahun 1919. Pada tahun
itu, Aston menemukan spektrometer massa, yaitu alat yang dapat digunakan untuk
menentukan massa atom dan massa molekul. Dengan alat tersebut, Aston menemukan
bahwa atom-atom dari unsur yang sama dapat mempunyai massa yang berbeda.
Fenomena ini disebut isotop, salah satu fenomena yang menggugurkan teori atom
Dalton. juga ditemukan bahwa massa suatu atom ternyata tidak sama dengan jumlah
protonnya. Banyak atom yang massanya sekitar dua kali massa protonnya.
Berdasarkan kedua fakta tersebut, Aston menduga keberadaan partikel netral
dalam atom yang jumlahnya dapat berbeda meskipun unsurnya sama.
Selanjutnya
pada tahun 1930, W. Bothe dan H. Becker menembaki inti atom berilium dengan
partikel alfa dan menemukan suatu radiasi partikel yang mempunyai daya tembus
tinggi.
Pada tahun
1932, James Chadwick memuktikan bahwa radiasi tersebut terdiri atas partikel netral
yang massanya hampir sama dengan massa proton. Oleh karena bersifat netral,
partikel itu dinamai neutron. Percobaan lebih lanjut membuktikan bahwa neutron
juga merupakan partikel dasar penyusun inti atom
3. PENEMUAN ELEKTRON
Eksperimen
pertama yang menunjukkan adanya electron dilakukan seorang ahli fisika bangsa
inggris yang bernama J.J. Thomson sekitar tahun 1900. Ia mengamati dua pelat
elektroda dalam tabung vakum. Ketika dua pelat elektroda tersebut dihubungkan
dengan sumber tegangan tinggi, dari elektroda negative (katoda) menjalar sinar
menuju elektroda positif (anoda). Sinar yang keluar dari katoda itu disebut
sinar katoda dan tabung vakum tadi dinamakan tabung sinar katoda. Sinar katoda
tidak terlihat oleh mata, tetapi keberadaannya dapat diketahui karena mampu
memendarkan ZnS yang terdapat pada kaca dinding tabung sinar katoda.
Sinar katoda
dibelokkan oleh muatan medan magnet kearah kutub positif dan tarik
menarik kearah kutub negative. Fakta ini menjadi landasan bagi
Thomson untuk menyimpulkan bahwa sinar katoda sebagai sebagai arus partikel
yang bermuatan negative, yang dinamakan electron.
Berdasarkan
besarnya simpangan sinar katode dalam medan listrik, Thomson dapat menentukan
nisbah muatan terhadap massa (nilai e/m) dar partikel katode yaitu sebesar :
e/m = 1,67 x 10 pangkat
8 C/g
George
Johnstone Stoney (1891) yang memberikan nama sinar katoda disebut “elektron”.
Kelemahan dari Stoney tidak dapat menjelaskan pengertian atom dalam suatu unsur
memiliki sifat yang sama sedangkan unsur yang berbeda akan memiliki sifat
berbeda, padahal keduanya sama-sama memiliki elektron.
Antoine Henri
Becquerel (1896) menentukan sinar yang dipancarkan dari unsur-unsur Radioaktif
yang sifatnya mirip dengan elektron.
Joseph John
Thomson (1897) melanjutkan eksperimen William Crookes yaitu pengaruh medan
listrik dan medan magnet dalam tabung sinar katoda. Hasil percobaannya
membuktikan bahwa ada partikel bermuatan negatif dalam suatu atom karena sinar
tersebut dapat dibelokkan ke arah kutub positif medan listrik.
0 Response to "Penemuan Elektron, Netron dan Proton"
Post a Comment